Suasana Segan Olahraga dan Rahasia Sukses Kiai Berpoligami

Oleh: M. Ichwan*)

Di masa modern ini, para Kiai, Nyai maupun Gus dan Neng, jarang bahkan langka yang olahraga. Beliau-beliau berada dalam suasana segan, sungkan, atau terkesan “kurang pantas” jika memakai busana olahraga.

Apalagi berlari-lari atau senam pagi, ada kesan itu jauh dari budaya keseharian mereka. Strata sosial sebagai “orang terpandang” membuat “kaum Brahmana” ini dikesankan berada di posisi serba tinggi, agung dan “suci”.
Seolah dibatasi dari pergaulan atau perbuatan lumrahnya manusia.

Kesehariannya serba dilayani, dan dihormati dengan cara modern. Yaitu harus naik mobil, harus dipayungi, tidak boleh kena panas Matahari, rumah ber-AC, dan sebagainya.

Akibatnya, banyak yang raganya kurang sehat. Pola makannya juga kurang sehat. Sering disuguhi menu serba daging yang lezat, sangat jarang terkena sinar mentari dan jalan kaki tanpa sandal, membuat jasmani mudah sakit. Bahkan, menderita aneka penyakit.

Kita sebagai umat merasa sedih jika ada keluarga kiai sakit. Terlebih menderita penyakit berat hingga masuk hospital.

Umat berharap ditunggui dan dibimbing lebih lama. Tak mau ditinggalkan cepat-cepat.
Maka alangkah eloknya kembali ke masa tradisi dulu.

Di masa simbah saya, para kiai dan keluarganya rajin berolahraga. Bahkan melatih pencak silat. Tiap hari berjalan tanpa sandal. Bermandi sinar mentari. Dan jika bepergian naik sepeda.
Kadang naik kuda atau dokar.

Raganya kuat. Pola makannya sehat. Dan pasti STRONG. Buktinya, beristri tiga dan hidup sampai tua renta.

*) Jurnalis yang olahragawan.

Baca Lainnya:  Atasi Kemiskinan lewat Beasantri, NU Sumenep Bangun Sinergi Multipihak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *